Puluhan pedagang

Puluhan pedagang yang selama ini berjualan di Laguna mendatangi Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Makassar, kemarin. Mereka bermaksud mengadukan nasibnya dalam rapat dengar pendapat yang digagas legislatif. Awalnya, rapat dengar pendapat tersebut dijadwalkan kemarin.

Karena itu, puluhan pedagang yang didominasi ibuibu, kemudian mendatangi DPRD sekitar pukul 10.00 Wita. Hanya, saat kedatangan pedagang,seluruh komisi yang ada sedang menggelar rapat tertutup. “Padahal pedagang ke sini karena diundang Dewan untuk rapat.Tetapi, tidak ada terima ki ternyata,” ungkap salah seorang pedagang yang enggan disebutkan namanya.

Dari informasi yang dihimpun, pedagang diundang gabungan komisi yang sebelumnya melakukan pembahasan terkait kelanjutan nasib pedagang di Laguna.Pedagang ingin mempertanyakan rekomendasi pemerintah, sebab hingga saat ini tidak ada kepastian lokasi berdagang. Hanya, hingga pukul 16.00 Wita, tidak satu pun anggota Dewan yang menerima pedagang. Akibatnya,mereka hanya menggelar poster dan tiduran di depan ruang Komisi A dan tangga DPRD.

Salah seorang pedagang Laguna, Dg Minne,mengaku,kondisi kehidupannya semakin sengsara pascapemerintah menggusur tanpa memberikan tempat jualan. Sejak saat itu, perempuan berusia 41 tahun ini tidak lagi bisa membiayai hidupnya dan tidak bisa lagi membiayai sekolah kedua anaknya. “Dulu waktu masih di Laguna, saya tinggal di rumah kontrakan. Kelima anak saya pun tetap sekolah.Tetapi, saat ini anak-anak saya pulangkan ke kampung di Pakkatto Bontomarannu.

Saya tidur di Laguna menggunakan tenda,” katanya ketika dimintai komentarnya di DPRD Makassar,kemarin. Perempuan yang sehari-hari berjualan pisang epe ini menceritakan, sejak diusir dari Laguna, dia dan suaminya berjualan pisang epe di sekitar Losari. Untuk jualan pisang epe,dia pun meminjam pisang dari penjualan pisang yang saat ini utang pisangnya sudah 35 sisir.

Namun, di Jalan Maipa, penggusuran terhadap PKL tetap dilanjutkan dan tidak pernah mendapatkan solusi hingga kemarin. “Sampai hari ini utang pisang dan beras belum saya bayarkan. Saya masih menunggu kebijakan pemerintah mengizinkan kami tetap berjualan di tempat yang strategis yang memang sesuai jualan pisang epe,”ujarnya. Maimuna, salah seorang pedagang yang juga berjualan pisang epe di Laguna, juga menceritakan susahnya mencari uang sejak digusur pemerintah.

Mereka minta tetap diizinkan berjualan di sepanjang Losari. Anggota Komisi C Bidang Pembangunan DPRD Makassar Imran Tenritata mengatakan bahwa konsep Laguna akan dibuatkan jalan akses menuju Metro Tanjung Bunga untuk menghindari kemacetan. Namun, sebagian dari Laguna juga akan dijadikan taman kota. “Kami belum tahu persis konsepnya seperti apa, sebab perubahan Laguna belum pernah dibahas di DPRD. Kami juga tidak tahu dinas apa yang menangani, anggarannya juga tidak ada dalam APBD 2011,” tandasnya. Demikian catatan online Sapu Jagat tentang Puluhan pedagang.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel