Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Muh Idris

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Muh Idris meminta masyarakat untuk tetap waspada terhadap banjir. Peringatan ini diberikan lantaran curah hujan tinggi yang sudah berlangsung selama dua pekan terakhir ini melanda Kabupaten Bone. Permintaan ini disampaikan saat mengunjungi lokasi banjir di Panyula, Sabtu (14/7) lalu. Pada Jumat (13/7) lalu,wilayah ini dilanda banjir. Sedikitnya 400 rumah di tiga dusun di Kelurahan Panyula terendam banjir. Menurut dia, situasi Panyula yang dilanda banjir tidak masuk dalam kategori bahaya, sehingga pemerintah belum memikirkan memberikan bantuan.

Namun dia tetap akan melaporkan kepada Bupati Bone mengenai situasi di Panyula. Tiga dusun itu adalah Macili, Wasalo, dan Baobao terendam banjir.Luapan air setinggi satu meter, yang menggenangi rumah penduduk ini akibat hujan yang turun sepanjang hari Kamis hingga Jumat. Hujan baru berhenti pada hari Jumat sekitar pukul 10.00 Wita. Banjir paling parah terjadi di Dusun Macili, karena dusun ini dekat dengan kali.

Di dusun ini jika terjadi hujan di Kecamatan Palakka, akan mendapat kiriman banjir yang berasal dari hulu Sungai Cabalu. Meski tidak menimbulkan kerugian dan korban jiwa, namun ratusan hektare (ha) sawah terancam gagal panen.Sebab sawah milik petani yang siap panen ini ada yang tertimbun lumpur. Kepala Keluruhan Panyula M Darwis mengaku sejak Jumat sore,air perlahan mulai surut, namun warga tetap waspada terhadap penyakit kulit.

Menurut Darwis, pascabanjir di wilayahnya, selalu menimbulkan penyakit gatal-gatal pada kulit.“Biasanya kalau banjir seperti ini selalu mendatangkan penyakit kulit,” katanya. Darwis juga mengaku telah melaporkan ke petugas puskesmas setempat untuk memberikan pelayanan kesehatan dengan memeriksa warga untuk mencegah penyakit kulit akibat banjir ini.“Saya sudah minta petugas medis.Mereka berjanji untuk memberikan pelayanan kesehatan,”ujarnya.

Sementara itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan bahwa curah hujan lebat masih akan terjadi di beberapa wilayah Indonesia, khususnya di Kalimantan bagian utara dan selatan, Sulawesi bagian tengah dan utara,Maluku,dan Papua. Akibatnya,menimbulkan banjir di beberapa wilayah itu. Fenomena hujan lebat ini dipengaruhi oleh variabilitas musim dan Osilasi Madden-Julian.

Di Indonesia bagian utara kejadian banjir masih berlangsung akibat pengaruh cuaca regional tersebut.”Sementara itu,di selatan ekuator kekeringan mulai makin dirasakan masyarakat, seperti di Jawa,Bali,NTB dan NTT,” kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho dalam keterangan tertulisnya, kemarin. Menurutnya,di Sulawesi sangat rentan terjadi banjir bandang karena topografi yang curam dan pendek dari sistem aliran sungainya.

Dengan kemiringan lereng yang curam,kepadatan aliran yang tinggi, dan kondisi penggunaan lahan yang makin terkonversi menjadi kawasan budidaya menyebabkan banjir bandang sering terjadi dan mengancam permukiman di bagian hilir.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel